Background

RinoDemarco

Silahkan klik beberapa gambar di bawah ini

  • image1
  • image2
  • image3
  • image4
  • image2
  • image1
  • image4
  • image3
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
rembulan pucat bersua malam
sesosok rindu tanpa sayap
terbang sendiri penuh harap

terbaring jiwa-jiwa sunyi di peraduan
menatap gelap di antara langit-langit kamar

dingin sunyi teman bertepi
dimana jiwa-jiwa yang menggigil
terperosok ke ceruk jurang rindu tak bertepi
dalam, mendalam, sedalam dalam

terpelanting jiwaku
terkoyak, tercabik terindu gadisku
angin mengajak kabut dingin
menyusupi pori-pori,
merontokkan tulang..,
                                                             namun tak mampu runtuhkan sunyi

sepi tanpa hening
sunyi dalam bisu

disinilah aku terdampar
menapaki kerinduan pagi akan sore hari
 lelaplah, terlelap lelap senyap


Rino Wahyuria Abadi
Aku bertemu dengannya tiga tahun lalu, itu di tahun 2009, dia masih berpakaian putih biru,
sekilas dia terlihat sangat aneh menggunakan pakaian itu dengan postur tubuh yang mungkin sudah pantas menggunakan pakaian putih abu-abu, emmm..
seorang gadis kecil yang membuatku merasakan sesuatu saat memandangya.
sedang aku adalah mahasiswa semester akhir di sekolah tinggi Informatika yang mengambil cuti kuliah karena hampir malas berpikir, anggap saja begitu.
untuk mengisi masa cuti kuliahku aku bekerja di tempat paklikku atau pak cilik (sebutan untuk adik dari orang tua atau sepupu muda orang tua di jawa), yang tinggal di Indra griri Hulu salah satu kabupaten di daerah propinsi Riau di pulau sumatra. aku bukan anak manja dan bukan dari keluarga yang kaya raya juga, karena ibuku hanya seorang Pegawai Negeri Sipil, tepatnya guru SD.
aku bekerja di tempat paklikku dari pagi sampai sore jadi kuli bangunan, mandor bangunan, sampai mupuk kebun sawit milik paklikku, tinggalkan saja cerita yang ini.
gadis kecil itu tinggal hanya satu blok di sebelah rumah paklikku dan dimana di situ juga aku tinggal. nama gadis kecil ini dewi, anak-anak sekitar daerah situ sering memanggilnya dedew, sebutan yang aneh untuk gadis kecil semanis dia. wew.. wew,,, hehe..
aku sering melihatnya mondar-mandir tapi aku bersikap biasa saja, masa mahasiswa semester akhir ngajak kenalan anak SMP, itu kayanya gak lucu,, hehe. tapi rasa tertariku mulai muncul saat aku sering melihatnya di mushola dan di situpun aku mengajar ngaji anak-anak kecil, gak sombong loh ya, walaupun tampang gwa rocker rada sangaran dikit tapi ngaji dikit-dikit juga bisa. hehe. sambil mengajar anak-anak kecil ngaji dengan sengaja atau tidak, aku sering curi pandang ngeliatin dia (kayanya si aku sengaja ngeliatin). dia manis banget kataku dalam hati. terus aku berhenti ngeliatin dia dan berkata dalam hati."apa-apaan si, masa lo ngliatin anak SMP lo tu mahasiswa semester akhir yang tinggal nunggu di wisuda"emmm.. lagian lo tu dah punya cewe, kataku dalam hati. dan waktu itupun aku udah punya cewe dari aku kelas 2 SMK, dia udah lulus kuliah duluan dan jadi teller di sebuah Bank BUMN di jawa. tinggalkan juga cerita ini..
hari demi hari entah kenapa ketertarikanku semakin besar padanya, dan aku seperti lupa kalau aku itu "suka" sama anak SMP. dan pada suatu hari entah darimana dapatnya (lupa) aku mendapatkan nomor handphone nya dan aku jadi memberanikan diri sering menelfonnya, walaupun dalam benaku juga sempat terfikir lagi kalau abang nya yang juga bisa di bilang temenku dan dia juga seumuran denganku. dari situlah kami sering berhubungan, berbincang, bercerita tentang apa saja sampai rasa nyaman itu muncul begitu saja. entah kenapa aku lupahari tanggal dan jam nya saat aku menelfonnya aku mengucap : aku suka kamu. akupun mulai berhenti bicara dan berpikir. ini gila, aku nyatain suka sama anak SMP. bahkan sampai akupun minta maaf padanya dan bilang lupakan saja kata-kataku tadi, dan yang anehnya dia bilang, "kenapa mas? mas nyesel suka sama ade? karena ade masih SMP? bukannya suka dan cinta itu bebas ya mas?"aku makin bingung dan pusing. waktu pun berjalan sampai akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke jawa dan meneruskan lagi study ku. saat di jawa kamipun berteman di dunia maya lewat jejaring sosial, aku di sibukan dengan kuliah, kegiatan kampus dan banyak wanita sampai dia seperti telah hilang. kami tak lagi seperti dulu walau sering kulihat fotonya di jejaring sosial aku hanya kadang berpikir. gadis kecilku mulai tumbuh dewasa.
dan suatu ketika aku sudah mulai jenuh dengan hubungan yang tak serius. akupun memutuskan untuk tidak berganti-ganti pacar dan berniat serius menjalin hubungan dengan seorang wanita, namun apa mau di kata, hubungan kami hancur karen banyak perbedaan yang mendasarinya,, akupun kembali ke sifatku yang dulu berpacaran lagi dan  bergonta-ganti pacar hanya untuk sebuah eksistensi kalau aku pria tangguh yang mampu berpacaran dengan siapapun, aku berpacaran dengan cewe cantik dan populer hanya untuk sebuah sebuah arogansi kalau aku mampu. dan pada suatu ketika kebingunganku menjalani hidup seperti itupun memuncak, saat aku jenuh dengan hidup yang seperti itu. di suatu malam di depan laptop aku mengerjakan skripsiku, dan sudah biasa kalau aku mengerjakan skripsi pasti jejaring sosialku Online. di beranda kulihat status galau,, aku tersenyum dan melihat ternyata itu adalah status galau gadis kecilku. bermula dari iseng,, aku chat dia dan menanyakan kabar dan sebagainya (basabasi) dan spontan kita cerita masa tiga tahun lalu.. dia bialang si katanya dia suka sama aku cuman dia masih terlalu kecil buat tau itu "katanya" dan dengan spontan aku bilang "gini aja... kasih mas waktu 3thn.. mas mampu maju,,, kalau engga mas mundur teratur.."
dan hari berikutnya aku menelfonnya dan berbincang banyak hal termasuk tentang masa lalu dan hati kami. dan akhirnya walaupun tanpa penetapan tanggal kapan kami jadian aku berpikir pada saat tanggal 20-12-2012 aku resmi pacaran denganya, gadis kecilku beranjak dewasa dan mulai mengerti apa itu cinta. semoga saja... Aku berharap 2 sampai 3 tahun nanti aku bisa meminangnya, Amien.
(sepertinya cerita ini belum berakhir dan akan berlanjut) .. cukup sampai celoteh berikutnya...

Rino Wahyuria Abadi
Euforia “kebebasan” yang disumbangkan era reformasi seringkali menuai kritik hampir pada semua diskusi sastra salama ini, banyak kritikus menyatakan bahwa kebebasan bersastra sekarang malahan lebih kelihatan tabu serta membelenggu penuh norma, dan di sisi lain kebebasan bersastra dianggap memberangus ‘kualitas’ karya karena menempatkan kualitas literer sastra dalam posisi seolah tidak penting. Kondisi semacam ini tentu saja tidak terlepas dari gejala sosial-politik dalam arti melihat karya sastra sebagai representasi sosial.

Sebenarnya pembahasan semacam ini pernah di wacanakan oleh Ahmad Sahal dalam (Culture Studies dan Tersingkirnya Estetika, Bentara, Kompas, 2/6/2000). Walaupun pada awalnya hanya dipusatkan pada masalah sastra, tetapi meluas juga sampai ke masalah seni rupa (Jim Supangkat, Bingkai Seni Kontekstual, Bentara, Kompas, 7/7/2000). Dan Enin Supriyanto pun ikut meramaikannya dengan (Culture Studies, Kritik Seni dan Apresiasi, Bentara, Kompas, 4/8/2000).

Ingin meramaikan perbincangan di seputar masalah sastra inilah beberapa catatan yang ingin saya ajukan setelah membaca kritik Wan Anwar (Horison, 2007). Wan Anwar secara komprehensif mengamati dan mengistilahkan “fenomena dua kubu”, antara ‘sastra seks’, sebagai efek kebebasan yang kelewat fulgar dan ‘sastra Islami’, yang di lihat hanya sebagai jalan dakwah dan ibadah semata, yang masing-masing sedang gandrung menggali muatan sastra era reformasi.

Dalam analisisnya, Wan Anwar menghubungkan kecenderungan itu dengan esensi ‘kebebasan’ yang terbawa badai reformasi. Dengan cermat Wan Anwar membaca dasar-dasar wacana kesusastraan yang mengonstruksi wacana kebebasan era reformasi dan yang sedang merayakan pluralitas budayanya.

akan tetapi Kajian semacam ini menurut Jim Supangkat terlalu mengutamakan pembacaan “konteks daripada teks”, lebih tertarik pada latar belakang karya sastra yang berada di luar sastra ketimbang karya sastranya, inilah yang di kritik oleh Wan Anwar: karya sastra dianggap hanya sebagai teks budaya atau dokomen sosial. Kritiknya, pendekatan ini mengabaikan dimensi estetik atau tidak memperdulikan pengalaman estetis yang menurut Wan Anwar “kualitas” menyertai pengamatan sastra.

Dengan menguraikan “fenomena dua kubu” sastra era reformasi, Wan Anwar mengkritik pula alam pikiran ini yang dilihatnya melatari euforia kebebasan bersastra dalam kesusastraan Indonesia sekarang. Tapi Wan Anwar tidak melindungi kritiknya dari paradoks pandangan kesusatraan era reformasi yang punya potensi membingungkan. Paradoks ini tercermin pada tidak adanya batas-batas yang jelas, kapan pandangan-pandangan itu memasuki persoalan kebebasan dalam bersastra (melihat sastra sebagai gejala sosial-politik) dan kapan berada pada persoalan literer (makna dan kualitas).

Seperti di ulas oleh Wan Anwar, era reformasi yang membongkar batas-batas hegemoni ternyata menisbikan kepercayaan umum bahwa sebuah nilai kebebasan menghadirkan nilai-nilai tinggi, sementara imbas kebebasan selama ini memperlihatkan selera kepenulisan yang rendah (tema-tema kebebasan yang dianggap memberangus kualitas literer sebuah karya sastra). Namun, pada kenyataannya kebebasan bersastra tidak bisa menghindari infrastruktur literer yang di tentangnya (tradisi pemikiran dan tradisi estetisnya).

Seperti sudah sering di bahas, ranah kebebasan sastra ternyata tidak bisa di lepaskan dari sisi estetis sebagai kualitas (literer) sebagai tradisi bersastra yang tidak bisa di tolak, karena prakteknya memang tidak mungkin dihilangkan. Sikap ambigu inilah yang membuat pandangan tentang kebebasan dalam sastra menjadi sulit di identifikasi dan menyesatkan sewaktu dibahas.

Dalam mengritik euforia kebebasan yang di pengaruhi wacana reformasi, Wan Anwar menempatkan konteks dan teks pada posisi yang berlawanan. “Pendekatan konteks” yang dikritik diasumsikan menekankan dimensi kemasyarakatan (sosial-politik), sementara “pendekatan teks” yang di unggulkan di anggap menekankan dimensi kualitas estetik dalam karya sastra sekarang ini.

Dalam permasalahan sastra kotekstual pemisahan isi dan bentuk bisa dilihat sebagai terperangkap pada pemahaman ini: suatu karya sastra di sebut kontekstual karena latar belakang sosial-budayanya, dimensi estetiknya, sementara itu, adalah masalah universal. Mengutip Jim Supangkat, Pemahaman ini “tidak bunyi”. Dikaitkan atau tidak di kaitkan dengan persoalan sastra, masalah sosial-budaya memang kontekstual. Karena itu permasalahan sastra kontekstual baru akan “bunyi”, apabila masalah sastranya (dimensi estetikanya) yang diyakini kontekstual, selama ini di yakni universal. Istilah sastra kontekstual adalah yang sementara pada proses menemukan perbedaan-perbedaan pernyataan plural.

Sesungguhnya mudah diajukan sejumlah argumen untuk menolak sikap ini. Di satu sisi bisa dinyatakan bahwa tidak ada hukum atau formulasi yang menjamin suatu karya sastra bisa berhasil atau tidak berhasil secara estetik, hanya karena isinya punya konteks sosial-politik. Sebaliknya tidak ada juga hukum yang menyatakan bahwa intensi fenomena dua kubu ini akan berahir pada kegagalan secara estetik. Bahwa isi “sastra seks dan sastra Isami” tak bisa di ramu menjadi ungkapan puitik.

***

Penentangan hierarki sastra dengan menyangkal tradisi liteter dan kebebasan tidak bisa di sangkal adalah bagian dari tradisi estetika memperdebatkan premis-premis Plato tentang keindahan metafisis dan keindahan sensual. Melihatnya sebagai potongan perkembangan linier dalam ilmu keindahan, penentang hierarkhi kesenian ini merupakan penentangan teori-teori estetika abad ke-19 lalu.

Pernyataan pluralitas budaya sastra, dilihat sebagai penentangan estetika yang mengutamakan sejarah sastra. Pendekatan sejarah ini mengkaji keindahan melalui pembacaan teks karya sastra dengan tujuan meninggalkan pendekatan filosofis yang dianggap sepekulatif dalam mengkaji keindahan. Pada perkembangan abad ke-20 pembacaan teks ini melahirkan modernist criticism yang mengabsolutkan “bentuk” dalam dikotomi “isi” seperti di ulas Wan Anwar. Bertumpu pada universalisme sebagai premis fundamental. Inilah hegemoni universalisme absolute yang di tentang dengan merayakan pluralitas bersastra.

Bila Wan Anwar memang mengritik dimensi estetika sastra ahir-ahir ini, ia sedang kembali ke perdebatan sangat tua tentang “seni untuk seni” dan “seni untuk masyarakat”. Fenomena literer yang di sebut Wan Anwar sebagai “medium kesenian yang bernilai pada dirinya sendiri” sudah di konstruksikan oleh pelukis Henri de Saint-Simon bersama industrialis Prancis pada tahun 1825 melalui Manifesto Gerakan Avan Garde. Segera setelah kutub pandangan ini muncul, pada tahun 1861 lahir kutub lawanya yang di pengaruhi sosoialisme (Manifesto Realis yang di lukiskan oleh pelukis Gustav Courbet dan penyair Sosialis Carles Boudelaire). Pada tahun 1880 dimulailah perdebatan yang kemudian menjadi berkepanjangan tentang art of art’s sake (Bentara, 2002: 165).

Kritik Wan Anwar, sesungguhnya baru mengkritik agenda sastra era reformasi apabila pembacaan sastra Indonesia yang ia persoalkan diartikan pembacaan sastra era Orde Baru dan sastra era reformasi, Pada permasalahan ini yang tetap berada pada dataran literer yang mengutamakan masalah kualitas dan pengabaian dimensi estetik bisa dan bahkan selayaknya dikritik dengan mempertanyakan, berapa lama mereka akan berlangsung? Akankah ini akan mencapai sebagian besar dari mereka? apakah kebenaran dari pengalaman ini dan bagaimana saya dapat meraihnya? mengapa hal ini bisa terjadi?

“Krisis kemanusiaan merupakan krisis pemahaman: apa yang sungguh-sungguh kita pahami dapat kita lakukan” demikian ujar Raimond Williams. Di satu sisi latar belakang sosial-budaya sastra era reformasi mudah di kenali, sementara di sisi lain latar belakang dimensi estetiknya nyaris tak bisa di kenali. Saya kira, pernyataan ini yang membuat kualitas satu tema dalam karya sastra cenderung mengangkat karya-karya era reformasi yang menurut Wan Anwar mengandung masalah yang dilihat sebagai “fenomena dua kubu” dan menafikan karya-karya yang menonjolkan dimensi literer. Dalam hal ini pengabaian dimensi plural (sastra seks dan sastra Islami) bukan persoalan tidak mau, tapi tidak bisa di hindarkan.

Membentuk suatu masyarakat (sastra) adalah menemukan makna dan tujuan bersama. Dan pertumbuhan suatu masyarakat terletak pada perdebaatan aktif dan perbaikan (amandemen) di bawah teknan-tekanan pengalaman, hubungan dan penemuan, menuliskan diri mereka sendiri agar membumi. Ini pula yang seharusnya dimaknai oleh Wan Anwar sebagai keseluruhan cara hidup bersastra. Makna bersama; untuk memaknai “kualitas” dan proses sebagai kegiatan-kegiatan khusus penemuan dan upaya kreatif. Setidaknya dapat di katakana bahwa Wan Anwar telah menempatkan “harapan” sastra semisal literary criticism atau art criticism.

Permasalahan mendasar sastra kontekstual itu adalah wacana lokal (local discourse) yang tidak lain adalah pengetahuan kesusastraan yang tertindas wacana “internasional” yang Ero-amerisentris. Terabaikanya pembahasan dimensi estetis dalam pembacaan sastra kita terjadi karena wacana kesusuartaan kita masih kabur dan bukan karena wacana tentang kualitas literer sebuah tema dalam karya sastra.

Memang salah satu agenda sastra reformis, seperti di uraikan juga oleh Wan Anwar, adalah membebaskan pengetahuan yang terdomonasi. Namun dalam permasalahan sastra Indonesia sekarang, agenda ini membebaskan wacana kebebasan dari hegemoni yang menjadikanya wacana yang di kenali dan terbaca secara komprehensif, ternyata tidak pernah sampai pada realisasi.

Wan Anwar dengan cermat mengulas hegemoni budaya dengan tanda-tanda yang terkesan alami tetapi sesungguhnya di konstruksikan. Pengakuan atas “kualitas” ini menunjukan terjadinya pemaksaan citarasa kelompok tertentu berdasarkan persetujuan. Mestinya, perkembangan kritik sastra, menggunakan istilah “konvensi” sebagai pertimbangan-pertimbangan teoritis untuk menjalaskan monopoli dan penyebaran kesepakatan. Karena ini adalah wilayah pengetahuan, dalam kegiatanya untuk membangun kesadaran. Yang menurut saya, persepsi seperti semisal Wan Anwar pasti sangat berpengaruh walaupun tidak kentara.

Wacana tentang kualitas sastra bisa dikaji secara konvensi, tentu dibatasi konteks. Melalui pembatasan ini, prinsip-prinsip yang dilumrahkan dalam konvensi ini bisa dilihat sebagai kesepakatan, kepercayaan umum, walaupun dalam kondisi simpang siur, tidak tersusun, tumpang tindih dan tidak jelas. Justru karena kondisinya yang kacau konvensi yang dibatasi konteks ini bebas dari dominasi yang di istilahkan oleh Jim Supangkat, dengan “konvensi tak bertuan”. Walaupun nantinya, tidak ada faham yang menjadi dominan dalam kondisi amburadul semacam ini. Melainkan seorang intelektual bertekad untuk menjadi bijaksana menurut mereka sendiri.

Sikap politik sastra tidak berniat melakukan perubahan nilai, atau perubahan sosial, apalagi dalam sekejap, tetapi menempuh setrategi “oposisi” terhadap dominasi dan represi. Melalui kedudukan oposisi ini sastra mengajukan gambaran-gambaran alternative, metafora, atau informasi yang di bentuk berupa humor, ironi, kemarahan ataupun rasa haru, agar wajah dan suara yang selama ini tidak tampak dan bungkam bisa di lihat ada dan di dengar. Apakah represi “kualitas” akan menjamin terjadinya pengkayaan pengalaman estetik? Itu tidak bisa dipastikan. Yang lebih bisa di pastikan adalah, pengabaian segala kompleksitas gagasan, latar belakang, nuansa sosial atau soal lain akan mempersempit pemahaman kita tentang estetika.

Adib Belaria Abadi
Sosok Roro Jonggrang meluruh bertandang di kedua mataku, aku mengikutinya, lalu dia memandang ke pepohonan yang dahan-dahan telanjangnya menjulang ke angkasa. Kini dia datang lagi!

Tiba-tiba aku merindu menyerupai rindu para perantau akan senyum ibu pada batu, namun ketika ingin aku tiupkan pada telinganya aku tak lagi memiliki suara, ketika ingin aku katakana pada matanya, ah! aku tak tahan akan sinarnya. Aku tak lagi memiliki cahaya.

“Melalui kenangan kurajut sejarahmu, kisah ulat dan kepompong yang keluar dari celah jari-jari dan kilat kuku yang merambat dan membebat sela-sela rusuk dadaku, mencari sebuah taman yang pernah dipenuhi ribuan bunga peliharaanmu yang kemudian menjelma dalam kitab lengang para Biku”

di simpang alaf ke-3 kupu-kupu-kuning-jingga meruap membakar seperti kuncup mawar yang tiba-tiba mekar! pecahlah hati, merobek daging membenggang tulang-tulang rusukku, meluncur mencari pengantin tersedih yang pernah ia sunting saat tujuh purnama itu, menyeruak ke satu titik langit

titik langit yang dahulu kala selalu engkau pandang dari dalam kelam kelopak malam, menatap awan sambil menggigit bibir sendiri, mata bergenang linang lebih manja dari langit pada bulan-bulan hujan.

tetapi tidak! kelak langit dan dirimu sendiri akan meninggalkan semua kesedihan yang engkau ciptakan.

Roro,
Dalam sebuah mimpi, aku saksikan sepasang kupu-kupu terbang beriringan, syahdan. Seekor kupu-kupu terbang menjauh kemudian hinggap diujung jari tanganku, menyematkan ciuman bunga sebelum mengepak sayap terbang di udara mencari pasangannya,

Kupu-kupu itu bersenandung seolah tenggorokanya berdawai perak, melanglang mencari wangi tubuhmu dan meninggalkan sebuah kisah merdu padaku, kisah tentang sebuah negeri angin yang telah lama diceritakan alam pada malam,

Dan, engkau menyangka kupu-kupu yang menghampiri hanyalah sebuah ilusi, namun pada saatnya engkau akan tahu, kelak kupu-kupu-kuning-jingga akan terbang dan hinggap ditiang layar perahu pipimu, setiap kali aku engkau kenang.

Roro,
Aku sudah terlalu rindu, aku ingin memeluk dan menciummu, karena semua sungguh sudah terlalu, sedingin batu. Aku selalu ingin di dekatmu, agar aku bisa merayumu setiap kamu marah atau sebal padaku,

masih ingatkah surat itu? Katamu
: riwayat yang gugur dari daun-daun dan senyum, serupa embun engkau menegurku sambil mengusap sungai yang mengaliri dadaku. Bisu aku dalam tangismu, ngilu luka waktu daun jatuhi rambutmu. Kitapun memanjakan waktu. Memahat dingin arca dalam gelap puriku, melumat lumutnya dalam rindu membatu.

Adib Belaria Abadi

AKU